Perjuangan dr. Kariadi Oleh : Joyce Chilia Indonesia telah merdeka selama 79 tahun, namun di masa awal kemerdekaan yaitu 17 Agustus 1945, masih ada saja musuh yang tidak terima dengan kemerdekaan tanah air kita. Inilah salah satu kota di provinsi Jawa Tengah yang menjadi korban dari Jepang atas amarahnya yang tidak ingin menyerah kepada Indonesia, yaitu Kota Semarang. Ada seorang dokter yang lahir di Kota Malang, ialah dr. Kariadi. Ia pernah mengenyam pendidikan kedokteran di beberapa tempat dan bekerja sebagai asisten dr. Soetomo di Surabaya. Hingga suatu hari muncul penyakit malaria yang menyebar di wilayah Indonesia, dan dr. Kariadi ditunjuk sebagai Kepala Laboratium Malaria di Jawa Tengah yaitu di Rumah Sakit Purusara. Waktu demi waktu mulai berlalu hingga suatu hari pada tanggal 14 Oktober 1945 muncul suatu berita buruk di daerah Candi Lama. Berita tersebut menyebar dari mulut ke mulut hingga sampai ke telinga dr. Kariadi. Pimpinan Rumah Sakit Purusara yang juga mendengar berita itu langsung memanggil dr. Kariadi. “Selamat siang, Pak”, ucap dr. Kariadi yang baru masuk ke dalam ruangan. “Selamat siang juga, pak Kariadi,” jawab pimpinan Rumah Sakit Purusara. “Sepertinya ini tentang berita yang baru muncul dan sangat panas tersebut ya, Pak?” tanya dr. Kariadi. “Iya, betul sekali, saya sangat khawatir dengan cadangan air kita di Reservoir Siranda karena tempat itu sering dipakai warga sebagai air minum dan bisa terkena racun jika mereka sudah terlanjur meminumnya.” “Saya setuju, Pak. Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang, Pak?” tanya dr. Kariadi. “Saya akan mengutus Anda ke Reservoir Siranda, untuk mengecek dan melaporkan keadaan cadangan air di sana.” jawab pemimpin Rumah Sakit Purusara kepada dr. Kariadi. “Baik, Pak. Saya akan melakukan misi ini yang terbaik”, kata dr. Kariadi dengan suara yang pelan, juga diselimuti rasa takut karena tentara Jepang yang terus mengawasi cadangan air tersebut. Dr. Kariadi pulang ke rumahnya untuk mempersiapkan diri dan berpamitan kepada Soenarti istrinya. Dengan berat hati Soenarti pun merelakan suaminya untuk menjalankan misi. Dr. Kariadi segera berangkat ke Reservoir Siranda bersama satu utusan tentara pelajar dengan naik mobil. Di tengah jalan, tepatnya di Jalan Pandanaran, dr. Kariadi dicegat oleh segerombolan tentara Jepang yang membawa senjata lengkap. Tak ada angin tak ada hujan, tentara Jepang langsung menembak dr. Kariadi begitu saja. Sampai di malam harinya, ada seorang warga yang menemukan dr. Kariadi tergeletak tak berdaya karena sudah tidak kuat lagi, dr. Kariadi akhirnya mati di tempat. Kabar kematian dr. Kariadi yang langsung tersebar luas membangkitkan semangat juang para pemuda Kota Semarang untuk menyerang para tentara Jepang. Pertempuran ini berlangsung lima hari, dari tanggal 15 Oktober 1945 hingga 19 Oktober 1945, dan meluas ke seluruh penjuru Kota Semarang untuk meneruskan perjuangan dr. Kariadi yang sudah lama mengabdi untuk Kota Semarang. Hasilnya pun tidak sia-sia, para pemuda Kota Semarang berhasil mengalahkan tentara Jepang. “Kita harus melindungi dan menjaga negeri ini dari ancaman para musuh hingga akhir hayat kita dan mempercayainya kepada generasi kita yang akan datang!” “Ya, semoga generasi kita selanjutnya bisa membawa Negara Indonesia semakin maju dan tidak melupakan jasa para pahlawan.” “Amin.” “Merdeka, Merdeka, Merdeka...!”